Feeds:
Posts
Comments

titah sang pujangga

Aku ukir kata yang tak terlukiskan
Kuharap kelak ia akan bersayap
Menyampaikan rasa, menyampaikan cinta
Untukmu wahai titah gagah sang pujangga

Bunga ini belum lagi mekar
Bak lilin kecil yang menerangi alam
Ia tak bernas, tak berisi, kosong tanpa daya
Meski wajahmu tetap memantul bak cahaya

Pendar bulan bersinar terang
Tak malu ia sendirian
Walau sang matahari juga bersinar siangnya
Namun mereka terpisah

Aku mencoba beralih, disana ada cahaya lain
Belum lagi aku menoleh, ia menghampiri
Bagai pangeran berkuda putih, ia gagah
Menawarkan keindahan, seindah kasturi

Aku bukakan pintunya, agar ia dapat kedalam
Aku persilahkan ia
Namun, bagai cermin buram pantulnya
Bagai hidup tak berarah

Lalu kemana engkau, sang pujangga?
Tak berkabar, tak berirama
Bagai unggas lepas dari sarangnya

Lalu aku berfikir, dan aku menerima…

190915

Note ; untuk semua saudara seperjuanganku di bumi Allah. Dan untuk mereka yang telah bersamaku, Ingatlah awal perjuangan kita.

…±5 years ago …

 

Bukanlah seperti Suju (super junior) yang memiliki 13 personil yang ganteng2 dan menarik

Bukanlah seperti sm*sh yang memiliki personil yang masih fresh dan sekarang sangat digandrungi para ababil (baca: abege labil) di Indonesia

Bukan pula seperti suju yang melambung dengan debut sorry-sorry nya

Atau sm*sh yang meroket dengan mini seri C3-nya (baca:cinta cenat-cenut)

 

Tapi, mereka adalah sekutu… se-kutu. Sekelompok kutu yang kecil tapi memiliki kekuatan yang besar. Beranggotakan banyak orang dengan main vokal

  1. vokal utama
  2. backing vokal
  3. yang cuap2
  4. yang nge-bass
  5. bendahara
  6. sekretaris
  7. ketua
  8. dll

Dan banyak lagi perangkat personil2 yang lain yang tidak bisa disebutkan…

Mereka ini para wanita penghuni dunia yang berusaha baik dimata dzat yang paling mulia di seluruh jagat raya. Lagu kebanggaan mereka adalah Problema yang ber-genre nasyid. Tongkrongan mereka ada di ROBIN (Roudhatul Tholibin) satu musholah sederhana yang ada di sekolah mereka. Mega seri mereka adalah setiap hari2 mereka yang di penuhi dengan dakwah. Keberhasilan mereka bukan ketika mendapat pujian, tapi ketika mereka dapat dengan baik menyampaikan kalamullah di tempat-tempat yang mereka datangi. Hiburan mereka adalah ketika mereka melepaskan penat dengan saling bercerita dan menangis ria bersama-sama. Jam kerja mereka setiap hari dengan pemikiran-pemikiran kreatif dalam dakwah mereka. Sumber dana mereka adalah dana pribadi yang disisihkan dengan sukarela demi berkibarnya majelis-majelis ilmu yang sarat akan cinta pada Allah. Pekerjaan luang mereka akan dihabiskan dengan bergotong royong untuk membersihkan basecamp mereka(ROBIN). Manajer mereka adalah rukun islam dan rukun iman.

 

Tapi, dengan seluruh kegiatan mereka, mereka tidak pernah mengeluh dan menyesali keadaan. Setiap keadaan dilalui dengan senda gurau. Seluruh masalah di selesaikan dengan bermusyawarah. Begitu indah saat itu. Saat-saat dimana ukhuwah di ikatkan dengan erat langsung oleh Allah seiring dengan mengalirnya robitho2 dari mereka. Begitu damai ketika persaudaraan mereka terjalin langsung dalam naungan semangat mencapai ridho-Nya.

… ±5 years later …

Kini, mereka tidak lagi berkumpul di ROBIN, kini lagu kebanggaan mereka tidak lagi ber-genre nasyid, kini mereka sudah lebih ’dewasa’ dari sebelumnya. Kini mereka lebih ’kreatif’ dalam memaknai kehidupan. Meskipun mereka sudah tak satu ’frame’, namun ukhuwah itu tetap ada, dan akan terus ada.

Saat ini, salah seorang dari mereka sedang menulis kisah mereka, dia juga berusaha mengingat2 apa saja kejadian2 yang mereka lewati, sekaligus berangan-angan, ”seandainya mereka bisa seperti ’dulu’ lagi”

”seandainya ukhuwah mereka akan tetap diikat erat langsung oleh Allah”

”seandainya hati2 mereka terus terikat antara satu dan yang lainnya dalam mencapai rido-Nya”

dan banyak pengandaian-pengandaian lainnya…

 

Ah, begitu indah… aku merindukannya,,,

Bagaimana dengan kalian teman2?

*semoga Allah senantiasa menuntun kita ke cahaya yang nyata. Aaamin ya rabbal ’alamiinn.. J

Ana uhibbukum fillah, insya Allah.

 

24 Rabi’ Awwal 1432

Sunday, 27 February 2011 ; 2:18:08 PM

Nenenda…

​ Dan wajahnya kembali terbayang. Aku lajukan motorku. Jalanan sedang lengang. Pikirku melayang. Ke beliau yang beberapa bulan ini mengusik pikir dan jiwa ku. Siti Romlah. Wanita hebat yang tiap kerut wajahnya membuatku hanyut. Bahwa dengan memandangnya membuatku damai sekaligus khawatir. 

“lah ku bungkuskah kupi ndik kabah wik. Kele amu nining lah ngiruh agi, kah nining karungkah, amu mak ini kupi dang murah benae” 

/ sudah aku bungkus kopi untuk mu wik, nanti kalau sudah goreng kopi lagi, nenek akan sisahkan. Kalo sekarang kopi sedang murah sekali

 Suara nya di telpon bergetar. Aku tau beliau sedang tidak fit. Umur yang hampir menginjak 80tahun membuat tulang nya sudah tak sekuat dulu. Malah sekarang lengkungan tubuhnya makin membentuk sudut siku-siku. Namun hal itu tak pernah membuatnya absen untuk sholat tarawih dimasjid dengan jumlah 23 rakaat. Tak menyurutkan kebiasaannya untuk mengkhatamkan Qur’an di bulan ramadhan. Tak pernah menyuruh orang lain untuk mengolah kopi hasil kebunnya sendiri. 

 Kali ini aku belokkan motorku di area taman kota, dekat kolam ikan terbesar di kota ini. Ntah kenapa aku bisa sampai disini. Aku memilih duduk dibawah salah satu pohon besar disana. Bayangku kembali kepada beliau. Sang wanita hebat yang sangat sabar. Sangat berwibawa, dan bijak sekali. Aku mendapatinya menghadapi banyak sekali hal-hal besar selama ini. Ditinggalkan adik laki-lakinya, ditinggal meninggal dua anaknya, melihat anaknya lumpuh, sampai dengan kejadian terakhir, baru-baru ini saat semua kebun dan sawahnya di ambil oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Dan semua terjadi dalam kurun waktu 6tahun terakhir ini. 

 Ada beberapa hal yang membuatku sering memikirkannya beberapa waktu ini. Kesehatan beliau yang makin melemah. Kondisi desa yang sekarang sedang tidak stabil, terutama suhu politik disana. Sebagai seorang wanita dari suku semende yang masih sangat memegang adat istiadatnya, nenek kini menjadi tumpuan adik-beradiknya. Beliau wanita tertua di keluarganya sekarang. Walaupun bukan seorang tunggu tubang, namun beliau selalu menjadi tempat diskusi adik-adik beliau sebelum mengambil keputusan. Pun untuk hal satu ini, hal yang terkadang di luar pengetahuannya. 

 Aku memandang foto rumah nenek sekarang. Rumah yang ia bangun dengan suaminya, kakek. Rumah yang awalnya hanya berbentuk pondok, yang mereka bangun dari hasil menjual sayur dan kopi di kebun mereka. Nenek yang membantu kakek menjahit dengan mesin jahit tua nya. Rumah yang kini telah diwariskan ke empat generasi di bawahnya. Sudah empat tunggu tubang tangguh yang lahir disini. 

 Aku beralih ke foto berikutnya. Nenek dengan baju kartini nya. Berfoto dengan puyang, ke enam kakak adik beliau dan beberapa sepupu beliau. Ayu sekali. Cantik. Tapi tak menghilangkan kesan dewasa dan matang dari tatap matanya. 

“aku nganggau gak nining bugae kabah itu aku mpai umur sepuluh sebelas. Dik pacak aku tuh ame lah di anggaukah nggahi puyang kabah. Ate balik ke humah lah be laki. Umur mak itu, lum lepas aku bedepangan saje nggahi puyang kabah. Nyelah mpai umur duebelas tigebelas aku nggak nining bugae kabah tuh sehumah”

/ aku menikah dengan kakekmu aku masih berumur sepuluh, sebelas tahun. Aku tidak tau kalau sudah dinikahkan oleh puyang mu. Saat pulang kerumah, tau tau sudah punya suami. Umur itu aku masih sering dipangkuan puyangmu, makanya, baru ketika umur 12-13 tahun aku tinggal serumah dengan kakekmu. 

 Beliau menjelaskan sambil sesekali tersenyum. Hanya dengan menceritakan tentang kisah cinta ia dan kakek mampu mengembalikan sedikit memori indah di benaknya. Khas sekali. Kali ini aku sedang menemaninya ‘ngiruh’ nasi dingin sisa semalam. Kopi hangat yang ia buat sendiri ia sodorkan padaku. Aku masih menggunakan jaket, lengkap dengan ‘saput abang’ tebal khas desa ini. ‘gahang belakang’ ini berada di rumah bagian paling belakang. Nenek masih memasak menggunakan puntung, hingga ketika disulut api, bau puntung itu khas sekali. Terdapat jendela berbentuk persegi panjang yang menghubungkan langsung dengan gahang belakang rumah tetangga, sehingga kami biasa ngobrol hanya melalui gahang, tanpa harus keluar rumah. 

“minumlah kudai kopi tuh, dingin kele, dik lemak agi” kata beliau sambil menambahkan sedikit air panas yang baru mendidih untuk menghangatkan kembali kopiku. 

“au ning” kataku sambil mengambil cangkir berisi air kopi hangat khas dari nenek. Warna kopi yang kecoklatan dan harum yang sangat mengunggah selera ini lah yang aku rindukan. Kopi dari nenek. Selama ini kami sekeluarga, terutama ayah, ibu, dan aku, sangat susah menerima kopi hitam lainnya kecuali kopi hitam yang diproduksi langsung oleh nenek. Entah kenapa, kopi nenek ini berbeda dengan kopi hitam lainnya. Mulai dari warna yang lebih dominan coklat dari pada hitam, bau yang wangi sekali, serta rasa yang legit, membuat aku selalu minta dikirimkan kopi setiap bulan nya….

S u r a t untuk m u

​Ehm.. Halo.. Hii!!! Ini salam ku saat ini, ntah dengan mu, saat nanti ketika kita bertemu. Surat ini untukmu. Sengaja aku buat untukmu. Hmmm, kenalkan aku wanita, setidaknya dibuktikan dengan jilbab yang aku kenakan dari SMA ini. InsyaaAllah, 17 hari lagi (bila Allah memberikan umur) umurku menginjak 26 tahun. Yaa, usia yang cukup matang, bahkan kata nenek ku ini usia yang “manis” nya wanita udah hampir habis. Well, mungkin maksud beliau aku sudah harus memikirkan masa depanku? Yupz, suami, lebih tepatnya. Tapi yaaa, alih2 memikirkan suami, aku seakan bimbang memikirkan tentang pernikahan. Aku beritahu padamu, dizamanku ini, sulit sekali meyakinkan diri untuk meluruskan niat, memurnikan hati,bahwa menikah betul2 untuk ibadah. Dan itu aku rasakan. Benar. Terkadang melihat teman dekat yang sudah bagiin undangan,akan membuatmu merasa tersaingi, kok bisa dia duluan ya, kok aku belum nikah ya sampe sekarang? De el el,de el el.. Ditambah dengan kriteria laki2 di zamanku ini yang tinggiiiiiiiiii sekali… Setidaknya harus memiliki beberapa kriteria. Yakni, cantik, kerja, dan mampu hidup susah. Yaaa, itu dari beberapa pengamatanku. Ada sih laki2 yang nggak terlalu memikirkan 3 hal itu, ada? Bahkan walaupun miskin, ndak kerja, laki2 nya kaya, ganteng, punya perusahaan, mau aja sama tuh cewek. Ada? Ada. Di drama korea yang aku tonton selama ini 0##0…

Yaa, bicara tentang drama, di zamanku ini lagi trend banget drama2 pendek instan yang bumbunya banyak, enak, namun rada ndak sehat. Hmm, maksudnya gini, banyak cowok or cewek yg main drama,tapi latarnya ya kehidupan asli, ndak pake panggung. Jd mereka seakan memakai topeng2 kebaikan, seakan mereka tak tersentuh salah. Malah ada yang mau merubah penampilan, istilahnya hijrah, dari pakaian mini ke pakaian longgar, sebutlah gamis, jilbab lebar, kaos kaki, dll, demi untuk dapet cowok, tapi ya itu,tetep buka peluang HtS.an, semisal gak pacaran tapi jalan berdua,nonton bareng, saling bangunin sahur,tahajud, dll lah, bahasa sekarang sih komitmen. Ada? Ada lah. Hm, itu niat lah ya. Sayang sih,udah hijrah pakaian tapi ndak berusaha untuk hijrah hati.. Yaa, kita doakan.

Betewe, udah panjang lebar gini bingung ndak kenapa aku tujukan surat ini untukmu? Hm, sekarang 1 juni 2017. Pukul 00.46 wib. Aku sengaja membuat ini untukmu,karena aku ini pelupa, jadi semoga dengan aku tulis di sini,akan mudah mengakses nya nanti. 

Hmm, sebelum nya, aku ingin mengucapkan terimakasih dan maaf untukmu terlebih dahulu. Terimakasih, untuk menjadi bagian dalam hidupku. Bagaimanapun engkau nanti, sifatmu nanti, kerja apa kau nanti, aku akan selalu bersyukur Allah anugrahkan engkau padaku. Klo ada lagu nya sekaramg tuh… “…aku pernah berfikir tentang indah hidup tua bersamamu… Tetap cantik rambutmu meski nanti tak hitam lagi…” ntah nanti apa warna rambutmu, tapi pasti aku akan mensyukuri semua yang ada pada dirimu. Saat menulis ini aku sedang membayangkan tertawa lepas bersamamu, bahkan untuk hal2 kecil dan sepele. Kita akan terbahak2, nanti akan banyak isi rumah kita. Ramai pokonya. Indah sekali. Ada waktunya kau akan manja padaku nanti,meski nanti kau jadi presiden kau harus ingat, aku termpatmu kembali dan bermanja. Bahu, lengan,dan dada ini siap merangkul dan memelukmu saat kau sedang penat akan dunia, yang aku yakin nanti di zaman kedepan akan lebih gila. I’m here for you, always. Dan kita akan bersama saling mengingatkan bahwa Allah bersama kita. Laa tahzaan sayang. Dan untuk kepercayaanmu padaku aku ucapkan terimakasih.

Lalu aku ingin minta maaf padamu. Disini aku akan gunakan kata sayang untukmu yaa.. Aku minta maaf padamu sayang, karena pasti kedepan nanti aku akan banyak khilaf dan salah. Mungkin tidak sengaja marah padamu, tidak sengaja berbicara keras padamu, atau bahkan akan banyak argumen kita yang bertentangan satu dan lainnya. Aku minta maaf sayangku. Mungkin karena bentukan aku saat ini yang membuatku seakan selalu khawatir tentangmu. Bagaimana nanti lingkunganmu, bagaimana nanti pergaulanmu, mungkin juga aku akan sering curiga, lalu akan sering mengomel padamu. Aku mohon nanti saat saat itu datang, jangan lah berprasangka buruk padaku, yakin lah bahwa itu aku lakukan untuk kebaikkanmu. Dan untuk semuanya izinkan aku mengucapkan maaf padamu.

Hmm, kau tau, aku memandangi wajah nenek ku saat menulis ini,dan aku mulai berfikir akankah masa tuaku nanti akan kuat seperti beliau? Akankah masa tuaku nanti akan banyak yang mengelilingiku seperti halnya nenek ku ini? Atau malah aku tidak akan menyamai usia nenekku saat ini? Dua kemungkinan yang aku pikirkan. Saat aku masih diberikan nafas oleh Allah sampai usia senja, akankah engkau akan selalu disampingku, paling tidak akankah engkau masih tetap sayang, perhatian, dan mencintaiku, seperti halnya saat kita pertama kali bertemu, saat awal2 kau tak pernah mau aku tinggalkan? Atau malah kau mudah sekali akan melupakanku? Mengacuhkanku, karena rambutku sudah tak hitam lagi? Atau gigi ku sudah tak lengkap lagi, atau karena aku sering mengeluh karena pinggang ku sudah tak kuat lagi? 

Lalu kemungkinan kedua adalah, saat aku mendahuluimu pulang ke rahmatullah. Akankah kau tetap mengirimiku doa? Atau minimal akan ingatkan kau dengan ku di sujud panjangmu? Akankah kau mengirimkan setidaknya alfatiha untukku? Aahh…

Hmm, ada satu ke khawatiran ku saat ini. Kau tau akhir2 ini negeri kita,setidaknya saat ini masih bernama Indonesia, sedang dalam kesedihan. Banyak sekali hal2 yang membuat hati ini pilu. Mulai dari pemahaman yang ndak lurus seseorang yang katanya genius. Banyaknya hal2 konyol yang tak masuk akal. Minoritas menindas mayoritas, dan setelah itu berlagak tertindas. Belum lagi bom yang seakan menjadi permainan orang2 yang tidak bertanggung jawab. Dan yang paling mencengangkan adalah kesalahan yang berbalik menjadi kebemaran, dan kebenaran yang seolah sangat salah. Aah, dan aku, aku belum bisa berkontribusi besar untuk mencegah semua hal itu terjadi. Sedih? Sangat. Yaa, aku berharap nanti kita akan sering berdiskusi dan bertukar pendapat tentang hal2 seperti ini, dan insyaaAllah aku akan selalu menjadi partner diskusimu,kapan dan dimanapun. Walaupun nanti mungkin kau akan sering keluar kota karena pekerjaanmu, tapi saat ini sudah ada video call, mungkin nanti akam tercipta hologram untuk berkomunikasi di sosial media, menggantikan facebook, skype, dll. Pasti nanti takkan menjadi masalah besar untuk komunikasi. Semoga.

untuk itu semua, aku ingin kita buat perjanjian, aku akan persiapkan diriku menjadi yang terbaik untukmu,sampai nanti kita dipertemukan, dan insyaaAllah aku akan menjadi yang terbaik untukmu. Dan sebagai gantinya, berjanjilah padaku, kau jg harus mempersiapkan dirimu untuk menjadi yang terbaik. Minimal untuk dirimu sendiri,untuk keluarga, agama, nusa dan bangsa. Setidaknya jadikan dirimu prajurit Allah dimanapun kau berada, agar nanti doamu akan cepat melesat kepada-Nya. Dunia akan semakin gila, dan aku tak yakin kau mampu sendirian mengahadapinya. Maka nanti kita akan bersama sama, kau tak akan sendirian, setidaknya ada aku dan ayahmu yang akan membimbingmu. Yakin lah, Allah telah menjanjikan jannah-Nya untuk hamba-Nya yang teguh dan berpegang pada tali (diin) Allah.. Nak, ibu dan ayah sangat mencintaimu…
Tertanda..
Ibu

Mencari rumah yang tepat, untuk berteduh dari panas,hujan, gangguan lainnya…

Mencari rumah yang tepat untuk bersandar dan berbagi

Rumah yang tepat,yang di dalam nya merasa nyaman dan ingin selalu pulang

Rumah yang tepat,yang selalu dirindukan

Hanya rumah yang tepat,tidak perlu mewah dan besar, atau penuh dengan ornamen baru,modern,kekinian. 

Cat mahal,bentuk yang modern,hanyalah bonus dari semua hal yg wajib dimiliki sebuah rumah.

Rumah yang tepat. Yang didalamnya akan banyak tumbuh benih kehidupan,benih benih kekuatan diinullah..

Yang tepat,

Bukan yang sempurna lengkap dengan perabotnya, 

Apalagi harus bergaya eropa dan berbagai ke-modern-an nya.. Hanya tepat! Itu saja 😊
Rumah yang tepat! 

Otak dan hati

ILUSTrasi

Namanya dan nama orang tuanya tertulis besar dilembaran kertas berwarna biru didepanku.

Dia. Yang aku abaikan,yang ilustrasinya tak aku anggap. Tiga tahun. Sampai undangan ini ada di depanku…

&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&

Tahun pertama….

Aku mendekatinya. sengaja makan berhadapan dengannya. aku ingin lihat respon nya. memastikan apa kah cinta ku bertepuk sebelah tangan atau tidak

“kau tau makanan apa yang Diana senangi?” aku bertanya pada Lusi saat kami makan siang di kantin. mataku masih menatap Diana yang berada di meja seberang kami.

“ehm, rendang?” jawab Lusi sambil berpikir

“oh ya? tau dari mana Lus?”

“tuh,dia makan rendang”

“klo itu mah,karena kantin kita menyediakan rendang, ah. orang serius ini”

“langsung tanya aja si Zi”

“ya,maunya. tapi malu. aku apa sih”

“yaudah,simpen aja penasarannya,sampai ada keberanian untuk nanya”

“Gak ah, aku nya jadi ndak sensitif nanti sama dia. dia suka apa,ndak suka nya apa. makanan fav nya,suka sunset or sunrise. dan yang paling penting,suka cowok yang gimana”

“Tau itu semua untuk apa zi? mau buat autobiografi nya Diana?”

“Kamu tuh ya,nggak pernah suka sama cowok Lus. klo suka pasti gitu respon alaminya. selalu cari tau semua tentang dia. apapun. semuanya”

“Oh ya? kok aku gak gitu ya? aku tau minuman fav bang Heri tukang parkir kita. istrinya namanya Lastri,anaknya tiga, rumahnya di belakang kantor,tiap hari dateng jam 6,selalu pake topi orange item, oh ya,seneng banget pete,jengkol, kabau juga. ehm, tapi aku ndak suka sama beliau lo Zi..”

“Beda Lusi. beda! itu mah kurang spesifik. liat ya,klo kita suka seseorang itu,semua gerakan nya sepersekian detik,otak kita bakal bisa scanning semua tentang dia,mulai dari gerakannya sampai apa yang dia katakan. semuanya!”

“Ehm…  ”

“Eh,besok jadi ke Jogja kan? persiapan udah oke semua ni?”

“Udah bos..”

“Nelp orang sana udah?”

“Udah”

“Persiapan berkas udah?”

“Udah”

“Kok bisa? padahal aku kemarin belum jelas ngomong sama kamu”

“Aku scanning semua omongan kamu. tenang.”

“Oke sip”

“””””””””””””””””””””””””

Tahun kedua…

Aku harus lebih gesit. Arman. rekan kerjaku. menyukai Lusi… arman, sosok laki2 yang sulit ditolak oleh kaum hawa, jabatan sebagai manajer,ditambah dengan tampang ala so ji sub, aktor korea, berhasil memikat siapapun wanita didekatnya. aku harus memastikan posisiku di mata Lusi!

“Lus,tuh ada kiriman kopi dari Arman,katanya untuk kamu. kalian udah jadian?”

“Gak. itu kopi yang dia beli di perempatan. ada campuran ramuan untuk yang sering insom katanya. jd dia kasih ke aku”

“Oh.. kok segitunya sama kamu.. cie”

“Ya,karena kmrin aku jengukin ibunya yang sakit. bantuin adiknya yang mau ujian,sama nemenin dia untuk survey lapangan di Ciamis.. oh ya,besok kita diundang makan siang bareng,Arman besok ultah”

“Waw,kamu sudah sedekat itu sama Arman. progress ni. perlu dirayakan”

“Apanya yang dirayakan? wajar lah kan rekan kerja.”

“Ehm,suka dengan Arman? kok sampai tau detail sampe ke keluarga2nya?”

“Nggak. klo Arman sih katanya suka sama aku,tapi akunya biasa aja. ”

“Ah masa? kok kamu sampe tau semua tentang Arman? sampe hari ulang tahunnya?”

“Nih!” katanya sambil menunjukkan kalender mejanya,disana lengkap tanggal lahir semua karyawan kantor. duh! 

“Wah,semua ada, ini tanggal lahir aku kok ndak ada si Lus? tega bener” kataku sambil menuliskan sendiri tanggal lahirku. “tenyata teoriku salah ya, aku kira semua orang akan benar2 hanya perhatian pada orang yang disukainya,kamu mematahkan teoriku Lus. selamat! ” kataku sembari tersenyum

Lusi menatapku sebentar seraya berkata, “ya, bagusnya aku beda sama kamu. klo suka sama orang,aku akan menutup sebanyak mungkin akses informasi tentang tuh orang. biar surprise aja”

“Kok bisa? ndak seru dong kalo kita nggak banyak tau tentang orang yang kita suka”

“Itulah serunya. biar nanti dia sendiri yang mengungkapkan ke kita. ”

“Ehm ya ya ya”

Piiip.. piip.. sms,dari Diana 😍

“Seperti kamu,aku ndak pernah tau semua detil tentang kamu,”

Makan siang dengan siapa? mau bahas progress Lusi – Arman gak?

Bareng Lusi ni. Boleh dimana?. send!

“tepatnya aku menutup akses untuk itu”

Ditempat biasa,aku tunggu!

Oke,aku ke ruang kamu sekarang. send!

“Eh,tadi kamu bilang apa Lus? ”

“Nggak,gak ada.”

“Oh ya udah,aku pergi dulu ya… diana ngajak makaannnnnn.. yuhuuuuu”

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Tahun ketiga…

Kalo sekali ini aku gagal,kemungkinan Lusi akan menikah dengan Arman…

“Hari ini aku pulang duluan ya,annive sama Diana. dia minta makan di resto mahal pulaa. ah,padahal lagi mau nabung untuk niat nikah tahun depan ”

“Dibilang aja zi,jujur. bilang lagi penghematan”

“Ndak bisa,dia bisa ngambek,terus ndak mau ketemu aku lagi”

“Terus? kamu serius sama dia kan? klo iya harusnya udah komit dong mau gimana kedepannya,cowok kok lembek gitu”

“Kok kamu nya marah si Lus? lagi ada masalah? mau cerita?”

“Nggak usah. urus cewek kamu aja sana”

“Hm, ntah lah. aku jd males lanjut sama dia. temenin aku yok,jalan bentar. bete nih”

“Ogah. nanti disangka ngerebutin cowok orang”

“Ampuunnn Lusi!! gak gitu jg Lus. kamu kenapa sih,akhir2 ini kok senewen gini? cerita hayok.”

Lusi menatap tepat di dalam mataku

“Aku dilamar Arman, Zi”

Aku berdetak

“Bagus dong. jd gimana? kapan?”

Belum aku jawab. aku harus jawab apa?

“Ya jawab menurut kamu baik. pokoknya klo untuk teman hidup kamu harus benar2 pikirkan semua hal termasuk hal2 kecil. ohya,faktor nyaman tidak nya, visi misi keluarga…”

“Tapi aku ndak begitu suka sama dia”

“Ndak papa Lus,cinta bisa dipupuk. yang penting kamunya nyaman dulu”

“Hm,andai aku bisa nyaman dengan Arman senyaman dengan kamu ya”

“Maksudnya?kamu maunya nikah sama aku?”

“Iya…”

Iya?

“Hahaahaa… kamu suka gitu”

“Hhm,kamu yang suka gitu”

“Kamu serius Lus?”

“Iya. sangat serius. tapi ndak mungkin ya? kamu kan sukanya sama Diana,dari 3 tahun lalu.”

Bisa… aku tuh suka sama kamu dari dulu. jauh sebelum kamu suka aku Lus. 

“Aih,andai kamu menangkap semua respon ku dari duuluuu sekali…”

Salah Lus, andai kamu menangkap semua respon ku dari duuluuu sekali… jauh sebelum kamu suka aku…

“Tapi ya namanya jodoh ya.. “

Kali ini,aku harus berhasil!

“Lusi..

Ehm, besok ada acara? kita ke pantai mau? berburu sunset?”

“Besok? hm, boleh.”

“Ok,aku tunggu jam 5 di perempatan.”

“Oke👌”

********************

Tiga bulan kemudian

Gaun putih panjang pas sekali dengan ayu nya Lusi. Wajahnya menunjukkan kelegaan pasca mendengar Arman lancar membacakan ijab qabul barusan.

“selamat ya Lus,kamu pantas untuk Arman”

“terimakasih Zi,kamu jg harus segera nyusul” jawab Lusi tersenyum. “ohya,kamu jg harus lebih serius dengan Diana,jangan terlalu lama. Cowok harus berani ambil resiko. Kalo suka samperin walinya” pesan nya bijak sambil mengedipkan mata…
&&&&&&&&&&&&&&&

Flashback…

3 months ago

Pertemuan besoknya kami bertemu di pantai. menikmati sunset. kali ini hanya berdua.

“hmm,zi. kamu tau,baru sekali ini kamu ngajak aku keluar. selama tiga tahun kita kerja bareng!”

“ohya?”

“iya..”

“…..”

“maaf Lus,dan terimakasih”

“waw!! dan baru sekali ini kamu ngucapin maaf dan terimakasih,selama tiga tahun ini! amazing! cuma sunset yang bisa buat kamu berubah.a hhahhahahh”

“ya,artinya kita harus sering liat sunset bareng. berdua saja. sampai kamu nya males dengerin aku minta maaf dan terimakasih”

“hehehe… bisa. nanti kita bakal bareng disini,dengan pasangan kita masing2.. jadi ndak sabar” Lusi berceloteh sambil menatap matahari yang hampir tertelan laut.

“zi,aku terima lamaran Arman. kemarin malam dia dan orangtua nya kerumah. kami sepakat menikah awal tahun ini”

“oh yaa?

Selamat kalo begitu. kalian memang serasi”

“karena kamu bilang cinta bisa tumbuh, maka aku terima dia. aku jg capek suka bertahun2 sama kamu,tapi ndak di respon. jd skrg aku maunya dicintai dulu.” katanya sembari tersenyum. 

“Kita janji,nanti anak2 kita harus kita jodohkan! biar makin erat hubungan kita! oke? janji ya?”

Sunset, Lusi, dan Janji

“Ya, janji. untuk anak kita” 

Cowok harus berani ambil resiko. Kalo suka samperin walinya

-Lusi- 

ILUSTrasi

091216

00.03

Usang

Aku memandang buku pemberiannya. Usang. Sudah tiga tahun yang lalu sejak aku terakhir bertemu dengannya. 

Gila. Saat aku terpesona dengan semua hal tentangnya. Bahkan mencoba menjadi apa yang ia inginkan. 

Tiga tahun yang lalu. Saat aku merasa yakin bahwa ia lah yang Tuhan pilihkan untuk menemani sisa hidupku. 

Tiga tahun lalu. Saat tiba-tiba dia harus pergi untuk urusan kerjanya. Dan aku percaya. Cih! Menggelikan. 

Aku mengambil lagi buku yang telah usang itu. Warna kertas nya telah berubah kekuningan. Baunya khas sekali buku yang lama tidak di buka. Buku yang tidak aku selesaikan membacanya. Hanya karena ia suka, dan ia hadiahkan padaku, maka aku mencoba menyelesaikan bacaanku. 

Tiga tahun lalu. Yang baru saat ini aku merasa seperti orang bodoh. Terobsesi dengan dia dan apa yang ia sukai. Obsesi. Sepertinya kata yang cocok untuk menggambarkan kegilaanku. 

Saat itu, aku hanya seperti refleksi otak yang dia inginkan. Menjadikan aku selalu ingin menjadi apa yang ia harapkan. Bodoh? Sangat. Dan sangat tidak nyaman. 

Aku buka halaman demi halaman buku itu. Menikmati tiap aroma yang keluar di lembaran-lembaran yang aku balik. 

Setahun yang lalu, saat aku memutuskan untuk berhenti mengharapkannya. Setahun yang lalu saat aku hapus semua antena pada diriku untuk tertarik padanya. Saat aku memutuskan untuk membacakan ‘mantra’, “i’m better without him”. Saat menatap cermin dan mulai kembali menata senyumku. Bahwa aku berhak untuk bahagia tanpa dia. Jauh, tanpa nya. 

Sebuah teori mengatakan bahwa akan ada saatnya ketika wanita sakit hati, dia akan sangat lemah pada awalnya, lalu dia akan frustasi, melewati masa tersulit dengan pengalihan seperti makan, olahraga, menjadi workaholic, etc. Dan semua itu sudah aku lalui. Setahun ini aku coba melewati semua fase menyiksa itu. Bagai kucing lugu yang telah hidup dan besar bersama harimau, aku lalu terbiasa dengan hal-hal yang bersifat keras dan ‘gombalan sampah’ lelaki lainnya. Mereka sudah tidak ada tempat disini. Di hati ini. Setiap mereka mencoba mendekat, bayangan lelaki tiga tahun lalu selalu menghantui, sehingga no other place to all men in my heart, in my life! 

Setahun yang lalu, saat aku memutuskan untuk me-merdeka-kan diriku sendiri. Dari semua hal tentang lelaki itu. Dari segala hal yang selama ini memengaruhiku. Thats all not me,not my personality, thats fake, thats all mask! Aku mencoba jujur dengan pikir dan diriku sendiri. 

Aku menatap fotonya yang ternyata terselip di halaman 180. Aku tersenyum kecut. Harusnya ia bertanggung jawab dengan aku yang sekarang. Cih! Aku tersenyum lagi. Cukup dia saja, lalu menjadikan aku tak percaya dengan semua lelaki, setidaknya sampai setahun yang lalu. 
Sampai akhirnya ia kembali dan melamarku. 
Dan…. 

Lucunya, aku menerimanya. 

Semua perempuan itu pelacur, sebab seorang istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja, atau cinta jika itu ada. -eka kurniawan, cantik itu luka-

Kdrama

​”Apa dunia ini terlihat seperti dongeng dimatamu? Apa lilin, cahaya bulan, dan musik klasik itu menghanyutkanmu bahwa semua hal akan indah saja? Baik2 saja?” wanita itu lalu mematikan lilin didepannya, beranjak dan mematikan alunan musik klasik yang sedang diputar. 

“Ran, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin kita saling mengenal lebih jauh”

“Lalu apa? Mengenal lebih jauh, lebih banyak lalu memberikan harapan dan kau pergi begitu saja? ”

“kau terlalu banyak menonton drama korea”

“ya, terimakasih untuk drama korea, aku jadi lebih paham bahwa semua yang sempurna hanya ada dalam drama! ”

“apa yang salah Ran? Aku bermaksud serius denganmu. Dan ini langkah awal untuk itu”

“serius katamu? Dengar. Kalau memang kau serius untuk hubungan yang kau bilang takdir ini, harusnya kau kondisikan dulu keluargamu. Ibumu, saudaramu! ”

“ibu? Kenapa dengan ibuku? Apa kau sudah bertemu dengan ibuku? ”

“ya, dan calon tunanganmu. Selamat! Dia jauh lebih baik dan lebih cantik dari wanita yang kau ingin ajak serius ini! Kembalilah pada ibumu. Tunaikan baktimu. ”

“aku tidak paham dengan jalan pikirmu! ”

“kau lah yang tidak peka dengan tanda dari alam, bahwa kita berbeda! Dan tidak akan bisa bersama”

“kau naif Ran. Bahkan kita belum mencoba! ”

“mencoba apa Lam? Adakah yang lebih penting dari restu orang tua? Kau! Kau itu milik ibumu! ”

“aku akan bicara pada ibuku”

“lagi? Ini sudah yang keberapa kali kau ajak bicara ibumu? Lima? Sepuluh? ”

“setidaknya kau beri aku kesempatan. Aku sedang berusaha! ”

“kau tidak berusaha, kau hanya pasrah. Aku menyerah”

“kau tau bahwa dari awal aku berusaha untuk menikah denganmu”

“aku tau. Dan usahamu telah sampai pada limitnya”

“kaulah yang telah mencapai limit nya. Aku masih ingin memepertahankan niatku ini”

“kita akhiri saja. Dari awal kita telah berbeda. Harusnya memamg tidak ada rencana serius lebih dari hanya berteman. ”

“niatku dari awal baik”

“ya, tapi keadaan nya selalu tidak baik Lam”

“kau hanya mencari alasan Ran, kau lah yang dari awal tidak ingin serius denganku”

Ran menyeringai “aku katamu? Untuk beberapa bulan ini? Dengan umurku saat ini? Sia-sia semua yang aku pertahankan selama ini! ”

Lam mendekat, “karenaa itu aku memintamu bersabar Ran, sebentar lagi. Ibu pasti akan mengerti” katanya lembut

“tidak Lam, terlau banyak perbedaan antara kita. Status sosial, pendidikan, harta, dan semuanya. Kita akhiri saja proses pernikahan kita” Ran mulai menangis

“aku kecewa padamu Ran”

“aku tau. Aku memang tak sebanding dengan kapasitas keberanianmu, wanita biasa yang tidak sengaja dipertemukan denganmu. Dari awal ini telah salah”

“aku tidak sedang membicarakan status sosial! ”

“itu masalahnya, kau tidak pernah peduli dengan masalah itu! Itu masalah kita sekarang! Masalah yang di bawa oleh kekuargamu. ”

“aku.. Tidak mengerti”

“pulanglah, bicara pada ibumu, dan kau akan mengerti, aku merestui kau dengan pilihan ibumu. Ibumu, adalah tempat baktimu, ikuti kehendaknya”, “salam untuk beliau”
——-#####——-